The Cuckoo’s Calling by Robert Galbraith

IMG_0185_3

Dekut Burung Kukuk

Judul Asli: The Cuckoo’s Calling

Penulis Robert Galbraith

Alih Bahasa: Siska Yuanita

Alih Bahasa Puisi hlm 7 dan 517: M. Aan Mansyur

ISBN: 9786020300627

  • Seperti biasa, kalau baca buku detektif/misteri, saya sebagai pembaca pasti ikut menebak-nebak siapa pelakunya. Tapi dalam buku ni, saya sudah bisa menebaknya dari bab 4, motifnya jelas banget. Enggak ada misteri sama sekali. Suka sebal kalau baca novel detektif yang plotnya udah kebaca begini. Sempat nunggu kejutan apa yang bakal ditunjukin penulis, tapi ternyata nggak ada. Galbraith naruh bukti2 di tempat yang jelas: tas tanganlah, telepon genggam noraklah, foto-fotolah… Tapi saya suka sama pendeskripsiannya (ada nggak sih lema “pendeskripsian” dalam kbbi?) yang ngalir dengan lancar. Kalau bukan karena kemampuan Rowling Galbraith meramu kata-kata, sudah saya tinggalkan buku ini. Intinya sih, saya bakal menantikan petualangan Cormoran Strike selanjutnya.

  • Soal penulisnya, siapa pun kayaknya udah tau kalau Robert Galbraith itu adalah nama alias JK Rowling, sang penulis serial Harry Potter yang tersohor. Tapi mengharapkan buku ini penuh sihir dan menyamakannya dengan Harry Potter sendiri rasanya kok sungguh *censored*. Udah jelas genre-nya beda. (puter-puter bola mata) Kalau menurut saya, tulisan tante Rowling/om Galbraith tetap menyihir kok…

  • Oiya… te-terje-mahannya… ba-ba-baagguuusss…! *speechless*

-nat-

3.5/5

The Sheikh’s Heir by Sharon Kendrick

sheikh's heir

The Sheikh’s Heir (The Santina Crown, #2)

Sharon Kendrick

Harlequin Presents

187 p.

ISBN: 9780373130726

Primary Language: English

Tokoh yang perempuan: Muda, cantik, cerdas, sukses, lajang; ketemu tokoh pria yang: Tampan, gelap, berbahaya, kaya raya, dan kebetulan seorang pangeran padang pasir. Sounds familiar? Sebenarnya agak terganggu dengan tokoh utama prianya, review di sini menggambarkan dengan cukup dekat bagaimana pendapat saya tentang buku ini.

-nat-

2.5/5

finished reading: December 08, 2013

A Monster Calls by Patrick Ness

A Monster Calls

by Patrick Ness

Kindle Edition

215 p.

First Publication: September 27, 2011

Primary language: English

A review from September 8, 2013

“The monster showed up just after midnight. As they do.”

Ada buku yang dari kalimat pertamanya saja sudah membuat saya terpikat. Kalimat pertamanya sudah membuat pikiran saya meliar. Kalimat pertamanya berhasil membuat imajinasi saya diregangkan, dipelintir, dikempiskan, dikembungkan sampai tak berbentuk. Kalimat pertamanya bisa menyeret saya ke tempat-tempat tak terduga–ke ruang bawah tanah seorang pencuri buku cilik, ke kuburan buku-buku yang telah terlupakan, ke tempat-tempat asing dalam upaya memecahkan misteri tentang sebuah kunci, ke sebuah sirkus yang kemunculan dan kepergiannya selalu tak terduga seperti layaknya tempat yang menjadi pusat keajaiban lainnya. Itu baru sebagian.

Dan buku ini, “A Monster Calls – from original idea by Siobhan Dowd” karya Patrick Ness adalah salah satunya.

Saya tidak mau cerita soal isinya, tapi bukan, ini bukan buku horor seperti yang tersiratkan oleh judul dan kovernya. Setidaknya bukan monster-monster dengan sosok fisik mengerikan serta jahat. Ini buku yang menjanjikan air mata. Buku yang menjanjikan akhir cerita yang akan “membuat dunia kita kacau balau”.

“Stories are wild creatures, the monster said. When you let them loose, who knows what havoc they might wreak?”

This is another good book which tore my heart and made me cry. But in the end, it also relieved me. Thank you Patrick Ness for passing the baton to all of your readers. To tell you the truth, it’s creating quite a havoc, instead of making a trouble.

-nat-

5/5

Buku sejenis: Love, Aubrey (Suzanne LaFleur), Ways to Live Forever (Sally Nichols)

The Thirteenth Tale (Dongeng Ketiga Belas) by Diane Setterfield

Dongeng Ketiga Belas

Judul Asli: The Thirteenth Tale

Pengarang: Diane Setterfield

PT. GPU

Cetakan I, November 2008

Soft cover, 608 hlm.

ISBN : 9789792241297

Primary language: Indonesian

A review from December 30, 2008

Terus terang, tadinya saya malas menulis komentar tentang buku ini. Awalnya, ritme membaca saya rada tersendat-sendat, bukan gara-gara buku ini membosankan sih, tapi karena saya sedang dalam mood buat tidur (mumpung libur panjang. Ha-ha). Akhirnya setelah mood membacanya datang kembali, saya menghabiskan 3/4 bagian buku ini hanya dalam waktu semalaman.

Buku ini menurut saya, adalah tipe buku yang membuat pembacanya terbentur dalam dilema. Kalau nggak dilanjutin baca,  kita dihantui rasa penasaran. Tapi kalau dilanjutin baca, yang ada kita dihantui beneran. Begitu selesai membaca buku ini, (jam setengah 2 pagi) saya tidak bisa tidur lagi. Pikiran saya terus-menerus ”dihantui” oleh tokoh-tokoh penghuni Angelfield House yang rasanya benar-benar hidup.

Awalnya saya pikir buku ini mirip buku Ghost Writer-nya John Harwood yang, kalau nggak salah, saya beri cap 2 bintang saja. Kadar kesuramannya sama. Namun demikian, tokoh dalam buku ini tidak terlalu membingungkan, dan tidak terlalu jahat, sehingga menjadikan buku ini berbeda sama sekali dengan karangan John Harwood tersebut.

Ini adalah kisah seorang penggila buku yang bikin saya iri setengah mati, karena bisa bersentuhan dengan koleksi buku-buku kuno yang luar biasa, dengan minat baca dan kegilaan MEMBACA yang membuat saya ciut (dan membuat saya jadi tidak merasa gila lagi :p).

Tidak seperti yang dikesankan oleh novelnya, ini adalah novel dewasa!

Alkisah, sebutlah seorang wanita muda bernama Margaret Lea, seorang anak pemilik toko buku kuno, yang suka ”mengintip” masa lalu orang lain, dan kadang-kadang di waktu luangnya, dia menulis biografi. Salah satu karyanya menarik perhatian seorang penulis yang banyak menulis buku bestseller, Vida Winter.

Ms. Winter meminta Margaret untuk menuliskan riwayat hidupnya. Riwayat hidup yang sebenarnya (catat!). Masa lalu yang ternyata kelam, suram, dan mengerikan (sedikit menjijikkan menurut saya…). Setelah tinggal di rumah Vida Winter, Margaret pun sudah mulai membuka diri, dan mengemukakan ketakutan-ketakutan (”Hantu-hantuku,” katanya!)-nya kepada pembaca. Hanya saja, ketakutan Margaret sudah bisa saya tebak dari awal. Margaret tertarik untuk menulis kisah hidup Vida Winter, karena satu kalimat, ”ceritakanlah kepadaku yang sesungguhnya…”. Belum lagi tentang adanya misteri dongeng ketiga belas.

Yang saya suka dari buku ini adalah endingnya. Walau terkesan maksa dan menggantung, tapi segalanya berjalan baik untuk semua orang. Yaayyy… (eh ini spoiler bukan ya?).

Alur ceritanya terkadang pelan, namun bisa tiba-tiba berlari dengan cepat. Untaian kalimat yang dipilih juga pas. Mungkin terjemahannya yang baik? Saya jadi penasaran pengen baca buku aslinya.

-nat-

4.5/5