The Book Thief by Marcus Zusak

bookthief

The Book Thief

by Marcus Zusak

Paperback, 552 pages
Published September 18th 2007 by Alfred A. Knopf
ISBN13: 9780375842207
(first published September 1st 2005)
Buku yang bercerita tentang buku selalu berhasil menarik perhatian saya. Bahkan kalau temanya berkisar ke seputar masalah yang biasanya enggan saya sentuh. Contohnya saja: tentang Holocaust, tentang Nazi, tentang perempuan yang teraniaya, tentang fasis-komunis-totalitarian, dsb dsb. Pokoknya tema-tema yang berat dan secara pribadi membuat saya “makan-ati”.Intinya, tema buku ini lebih menggiurkan sehingga bisa mengatasi keengganan saya terhadap kisah-kisah “mengerikan”.

Cerita bermula ketika sang Narator menemukan sebuah buku bersampul hitam tergeletak di antara puing-puing bangunan. Buku milik seorang gadis Jerman, yang kisahnya tertulis di sana. Ketika memutar waktu (atau ingatannya?) kembali, sang Narator ternyata pernah bertemu dengan gadis itu tiga kali (secara tidak sengaja, sementara pertemuan yang keempat memang disengaja).

Sang Narator mengetahui bahwa: (1) gadis itu pencuri buku; (2) ada kualitas pribadi gadis itu yang entah mengapa menarik perhatiannya; dan (3) gadis itu orang yang ia sebut sebagai “the leftover”, orang yang tersisa/yang bertahan hidup.

Sang Narator ini berprofesi sebagai pengumpul serpihan-serpihan jiwa manusia. Bayangkan betapa sibuknya dia, karena saat itu sedang pecah Perang Dunia II sementara Hitler sedang menjalankan ideologi fasisnya. Ya, sang narator adalah sang Malaikat Maut atau kita sebut saja sebagai Death.

Death bercerita dengan gaya yang kocak dan sompral dan cenderung sarkastik. Dia juga seringkali ember karena suka membocorkan akhir cerita (katanya, akhirnya aja udah cukup menyedihkan sehingga dia gak mau pembacanya terkejut). Ia terus-terusan mencoba menyadarkan pembaca bahwa kematian itu tidak seperti yang dipikirkan manusia selama ini.

Ini adalah kisah tentang Liesel, gadis berumur 10 tahun yang selalu dihantui kenangan akan kematian adiknya ketika diangkat anak oleh keluarga Hubermann. Tentang Papa Hubermann yang bijak dan gemar bermain akordeon; tentang Mama Hubermann yang bermulut kasar tapi berhati seluas samudra. Persahabatan Liesel dengan Rudi Steiner. Pertemuan Liesel Meminger dengan Max Vandenburg, seorang Yahudi yang bersembunyi dari kejaran Nazi. Ini kisah tentang seorang pencuri buku (dan banyak lagi yang dicurinya selain buku, tapi malah gak relevan sama judulnya kalau dituliskan).

Ughhh… I am not such a good story-teller, am i??!!

Anyway, I highly recommend this book to you. The Book Thief is a you-could-not-put-down-til-you-had-finished-reading kind of book. It deserves 6 stars.

-nat-

5/5
Advertisements

The Shadow of the Wind by Carlos Ruiz Zafon

shadow of the wind

The Shadow of the Wind: A Novel

by Carlos Ruiz Zafon

translator: Lucia Graves

paperback, 487 p.

Penguin Books

Publication: January 25th, 2005 (first published 2001)

Primary language: English

A review from October 10th, 2010

What This Book is About?

I think Zafon, or the translator, Lucia Graves (since i read the translation in english, and the original version is in spanish), perfectly described the book with their own words.

About accursed books, about the man who wrote them, about a character who broke out of the pages of a novel so that he could burn it, about a betrayal and a lost friendship. It’s a story of love, of hatred, and of the dreams that lived in the shadow of the wind.” p. 178

According to Me…

This is the first book by Carlos Ruiz Zafon that i have read. And you know what, a book about books is never failed to have me hooked. From the very start i read that the young Daniel Sempere is taken to “the cemetery of forgotten books“, i knew immediately that i was going to love this book. But it turns out that i wasn’t madly in love as i LOVE the book thief (markus zusak) and the thirteenth tale (diane setterfield),  so i gave it 4 stars instead.

Oh, this is the kind of books that gives you nightmare for weeks after reading it. So go grab Shadow of the Wind at the nearest bookstore if you dare. :p

-Nat-

4/5

Leo the African by Amin Maalouf

Leo the African

by Amin Maalouf

Edisi terjemahan

605 hlm.

Cetakan pertama: 1 Februari 2005

Bentang Pustaka

Primary language: Indonesian

A review from Februari 10th, 2013

Sekarang ini saya lagi mengalami “mati rasa”. Ngerasa begini setelah selesai membaca satu buku bagus, dan males baca yang lain-lain lagi karena mood-nya masih tertinggal di buku itu.

Ini yang saya rasakan setelah menamatkan Leo the African karya Amin Maalouf. Gak bisa ngomong apa-apa lagi selain, BUKU INI KEREEENNN… A MUST READ!

Saya sempat males baca karya Amin Maalouf  lain gara-gara lebih dulu baca Balthasar’s Odyssey. Padahal Leo the African lebih dulu terbit daripada BO. Kesan akhir yang saya dapatkan dari kedua buku tersebut berbeda 180 derajat. Mungkin karena Leo the African dituturkan dari kisah nyata; atau karena saya membacanya sekarang, dan bukannya dulu di mana kesan-kesan saya tentang buku bagus itu berbeda dengan sekarang. Yang membuat saya akhirnya tertarik untuk membacanya adalah karena saya sedang dalam suasana hati “kepingin bertualang,” kepingin jadi Ibnu Battuta atau Santiago (dalam the Al-chemist-nya Paulo Coelho).

“Travelling,” kata Ibnu Battuta, “it leaves you speechless, then turns you into a storyteller.”

-nat-

Oiya, ada satu buku Amin Maalouf  lagi yang sudah diterjemahkan, yaitu Samarkand. Kayaknya harus coba dibaca juga deh. Mari kita hunting buku!

5/5