Finished Reading: Melbourne, Winna Efendi

2016_0318_12253300_20160318131246237

 

Berhubung sedang dalam mood buat baca buku ringan (tapi ogah beli, karena rak buku di rumah udah nggak muat lagi), akhirnya saya menjarah isi rak bukunya Jia secara paksa (lha iya, namanya juga “menjarah”) dan dapat 8 buku (pinjaman) karya penulis lokal. Hampir semua buku Windry Ramadhina, sebenernya. Tapi Jia sendiri merekomendasikan buku karya Winna Efendi ini karena “novel ini bagus buat jadi acuan untuk belajar nulis.” Langsung deh saya tamatkan sekali duduk. Ceritanya ringan, alurnya maju-mundur, dengan POV yang bergantian. Gaya bahasanya keren, bertaburan “kata-kata mutiara” (halah, kata mutiara) indah yang ngebuat saya langsung bisa membayangkan “theme”-nya dan tentu saja bisa dijadikan “quote” keren. Belum lagi banyak iringan lagu-lagu asyik di sepanjang cerita.

Saya pun langsung terpikat pada paragraf pertama, tapi… sayangnya keterpikatan saya berhenti sampai di situ saja. Saya tidak merasa “attached” dengan para tokoh utama.  Datar aja. Misalnya waktu mereka pertama putus, saya sempat penasaran apa alasannya, tapi begitu tau ternyata yaelah gitu doang. Dasar abege! (Ha!) Saya nggak merasakan “kebutuhan” buat simpati terhadap masalah keduanya. Cowoknya muram, ceweknya eHOis (pake H, saking egoisnya. *toyor*). Saya nggak “merasa degdegan” pada saat adegan romantis. Saya nggak kepingin pergi ke Melbourne. Di dalam cerita ini, Melbourne seolah dijadikan “tempelan” belaka. Kisah ini bakal sama saja kalau setting-nya di New York, Paris, Jakarta, atau bahkan Bandung, misalnya.

Tapi buku ini merayakan kepiawaian sang penulis dalam merangkai kata-kata. Saya tidak pernah baca buku Winna sebelum ini, tapi pastinya nggak bakal kapok untuk mencari judul-yang lain.

3/5 karena teknik penulisannya yang ciamik.

Advertisements