City of Veils by Zoe Ferraris

city of veils

 

City of Veils (Nayir Sharqi & Katya Hijazi, #2)

by Zoe Ferraris

e-book

393 p.

first publication: 2010

primary language: english

 

Buku kedua dari serial Nayir Sharqi dan Katya Hijazi. Kasusnya lebih kompleks dan lebih menarik, tapi tokohnya kebanyakan, dan terlalu besar porsinya sehingga enggak jelas lagi siapa tokoh utama dan siapa tokoh pembantu. Ada Osama Ibrahim, ada Miriam Walker, dll…

Saya sih tetap lebih suka mengikuti perkembangan hubungan Katya dan Nayir. Hehe…

Enggak sabar baca yang ketiga, soalnya menurut review GR, buku itu yang paling bagus.

-nat-

3/5

Finding Nouf (Nayir Sharqi & Katya Hijazi, #1) by Zoe Ferraris

Finding Nouf

Finding Nouf (Nayir Sharqi & Katya Hijazi, #1)

by Zoe Ferraris

e-book

316 p.

first publication: 2000

primary language: english

 

Ngaku deh, saya baca dari belakang (saking penasarannya). Alur di bagian awal-awal terasa sangaaaat lambat… mungkin karena penulis sedang memperkenalkan tokoh-tokohnya kepada pembaca, ya.

Tapi aneh, deh, kok judulnya “Finding Nouf”, ya? Padahal Nouf sudah ditemukan di bab awal. Mungkin lebih tepat “Mencari Pembunuh Nouf”. Mungkin, karena itu juga, pada beberapa edisi, judulnya diganti jadi “The Night of the Mi’raj.”

Ini cerita detektif, lho, tapi setting-nya di arab saudi. Detektif ala timur tengah, gitu.

Menurut the Independent: “Zoë Ferraris’s debut novel arrives in timely fashion. A look at how Saudi Arabia’s Muslim mores and sharia laws affect gender relationships, wrapped up in a murder mystery, The Night of the Mi’raj is an antidote to the ever-increasing numbers of books set in Afghanistan or Iraq with war as their subject.” (http://www.independent.co.uk/arts-ent…)

Karakter utamanya agak-agak mirip sama Cormorant Strike, dalam hal pria bertubuh tinggi besar yang nggak nyadar kalau dirinya cakep dan digila2i perempuan. Hanya saja, Nayir Sharqi (tokoh utamanya) adalah pria muslim Arab yang taat agama. Pria yang lebih suka kehidupan di gurun daripada perkotaan. Kalau dijadiin harlequin kayaknya menarik, nih.

oke, saya melantur. :p

Tokoh utama yang kedua seorang wanita, Katya Hijazi. Seorang teknisi laboratorium yang untuk sementara ditempatkan di kantor Koroner tempat jasad Nouf disimpan. Di sana, Katya bertemu dengan Nayir. Menurut Nayir yang kaku, Katya ini “deviant”: membangkang, menyimpang, tukang memberontak. Coba bayangkan, bagaimana perasaan Nayir yang alim banget melihat Katya dengan santainya tidak memakai burqa-nya di depan Nayir, pria asing yang bukan siapa-siapanya.

Terus terang, saya lebih suka dengan perkembangan hubungan antara Nayir dan Katya daripada mencari pembunuh/para pembunuh Nouf. :p

Oiya, pemaparan Zoe Ferraris tentang kehidupan di saudi sebenarnya cukup menarik dan membuka wawasan, walau belum bisa dijamin kebenarannya.

Me likey! Enggak sabar baca seri selanjutnya.

-nat-

3.5/5

 

The Secret History by Donna Tart

The Secret History

The Secret History

by Donna Tartt

Kindle edition

546 p.

first publication: January 1st, 1992

primary language: english

Sebenarnya ceritanya keren banget, nyaris saya kasih 4,5 bintang. Tapi saya kebosanan di sepertiga bagian akhirnya, dan hampir nyerah baca buku ini. Si penulis semacam “pamer pengetahuan”-nya di sini, segala hal ditulis padahal nggak ada hubungannya sama jalan cerita.

Latar belakang “filsafat Yunani” dalam buku ini yang seharusnya bisa jadi kekuatan cerita, malah jadi bumbu doang, yang kalau dihapus pun, tidak akan memengaruhi plotnya: 5 mahasiswa terlibat pembunuhan seorang teman, dan mereka bekerja sama untuk menutupi jejak atas keterlibatan mereka. Kedengaran tidak asing, ya kan?

-nat-

3.5/5

The Thirteenth Tale (Dongeng Ketiga Belas) by Diane Setterfield

Dongeng Ketiga Belas

Judul Asli: The Thirteenth Tale

Pengarang: Diane Setterfield

PT. GPU

Cetakan I, November 2008

Soft cover, 608 hlm.

ISBN : 9789792241297

Primary language: Indonesian

A review from December 30, 2008

Terus terang, tadinya saya malas menulis komentar tentang buku ini. Awalnya, ritme membaca saya rada tersendat-sendat, bukan gara-gara buku ini membosankan sih, tapi karena saya sedang dalam mood buat tidur (mumpung libur panjang. Ha-ha). Akhirnya setelah mood membacanya datang kembali, saya menghabiskan 3/4 bagian buku ini hanya dalam waktu semalaman.

Buku ini menurut saya, adalah tipe buku yang membuat pembacanya terbentur dalam dilema. Kalau nggak dilanjutin baca,  kita dihantui rasa penasaran. Tapi kalau dilanjutin baca, yang ada kita dihantui beneran. Begitu selesai membaca buku ini, (jam setengah 2 pagi) saya tidak bisa tidur lagi. Pikiran saya terus-menerus ”dihantui” oleh tokoh-tokoh penghuni Angelfield House yang rasanya benar-benar hidup.

Awalnya saya pikir buku ini mirip buku Ghost Writer-nya John Harwood yang, kalau nggak salah, saya beri cap 2 bintang saja. Kadar kesuramannya sama. Namun demikian, tokoh dalam buku ini tidak terlalu membingungkan, dan tidak terlalu jahat, sehingga menjadikan buku ini berbeda sama sekali dengan karangan John Harwood tersebut.

Ini adalah kisah seorang penggila buku yang bikin saya iri setengah mati, karena bisa bersentuhan dengan koleksi buku-buku kuno yang luar biasa, dengan minat baca dan kegilaan MEMBACA yang membuat saya ciut (dan membuat saya jadi tidak merasa gila lagi :p).

Tidak seperti yang dikesankan oleh novelnya, ini adalah novel dewasa!

Alkisah, sebutlah seorang wanita muda bernama Margaret Lea, seorang anak pemilik toko buku kuno, yang suka ”mengintip” masa lalu orang lain, dan kadang-kadang di waktu luangnya, dia menulis biografi. Salah satu karyanya menarik perhatian seorang penulis yang banyak menulis buku bestseller, Vida Winter.

Ms. Winter meminta Margaret untuk menuliskan riwayat hidupnya. Riwayat hidup yang sebenarnya (catat!). Masa lalu yang ternyata kelam, suram, dan mengerikan (sedikit menjijikkan menurut saya…). Setelah tinggal di rumah Vida Winter, Margaret pun sudah mulai membuka diri, dan mengemukakan ketakutan-ketakutan (”Hantu-hantuku,” katanya!)-nya kepada pembaca. Hanya saja, ketakutan Margaret sudah bisa saya tebak dari awal. Margaret tertarik untuk menulis kisah hidup Vida Winter, karena satu kalimat, ”ceritakanlah kepadaku yang sesungguhnya…”. Belum lagi tentang adanya misteri dongeng ketiga belas.

Yang saya suka dari buku ini adalah endingnya. Walau terkesan maksa dan menggantung, tapi segalanya berjalan baik untuk semua orang. Yaayyy… (eh ini spoiler bukan ya?).

Alur ceritanya terkadang pelan, namun bisa tiba-tiba berlari dengan cepat. Untaian kalimat yang dipilih juga pas. Mungkin terjemahannya yang baik? Saya jadi penasaran pengen baca buku aslinya.

-nat-

4.5/5