Selimut Debu oleh Agustinus Wibowo

selimut debu
Selimut Debu
Agustinus Wibowo
Paperback, 461 pages
Published September 2011 by Gramedia Pustaka Utama (first published January 12th 2010)
9789792274639
Primary language: Indonesian

Saya suka gagasan besar di balik buku ini, bahwa perjalanan bukan cuma tentang tempat-tempat yang dikunjungi, tetapi tentang makna perjalanan itu sendiri, dan bagaimana pengaruhnya terhadap diri kita. Saya juga suka cara buku ini memberi warna baru dalam dunia penulisan perjalanan. Boleh dibilang, ini merupakan salah satu buku yang menginspirasi saya.

Tapi tema buku ini sebenarnya sudah terlalu umum. Saya tidak menemukan “misteri prosesi kehidupan di tanah magis yang berabad-abad ditelantarkan, dijajah, dan dilupakan” yang katanya sudah “disibak.” Dan penulis terlalu sering mengulang-ulang tentang “debu” seolah-olah dari judulnya saja enggak cukup. Hihi… saya rada alergi debu, jadi bacanya ikut gatel-gatel. Ah, tapi itu membuktikan betapa piawainya beliau menulis, bukan? Sampai pembacanya ikut terbawa suasana?

-nat-

3/5

Leo the African by Amin Maalouf

Leo the African

by Amin Maalouf

Edisi terjemahan

605 hlm.

Cetakan pertama: 1 Februari 2005

Bentang Pustaka

Primary language: Indonesian

A review from Februari 10th, 2013

Sekarang ini saya lagi mengalami “mati rasa”. Ngerasa begini setelah selesai membaca satu buku bagus, dan males baca yang lain-lain lagi karena mood-nya masih tertinggal di buku itu.

Ini yang saya rasakan setelah menamatkan Leo the African karya Amin Maalouf. Gak bisa ngomong apa-apa lagi selain, BUKU INI KEREEENNN… A MUST READ!

Saya sempat males baca karya Amin Maalouf  lain gara-gara lebih dulu baca Balthasar’s Odyssey. Padahal Leo the African lebih dulu terbit daripada BO. Kesan akhir yang saya dapatkan dari kedua buku tersebut berbeda 180 derajat. Mungkin karena Leo the African dituturkan dari kisah nyata; atau karena saya membacanya sekarang, dan bukannya dulu di mana kesan-kesan saya tentang buku bagus itu berbeda dengan sekarang. Yang membuat saya akhirnya tertarik untuk membacanya adalah karena saya sedang dalam suasana hati “kepingin bertualang,” kepingin jadi Ibnu Battuta atau Santiago (dalam the Al-chemist-nya Paulo Coelho).

“Travelling,” kata Ibnu Battuta, “it leaves you speechless, then turns you into a storyteller.”

-nat-

Oiya, ada satu buku Amin Maalouf  lagi yang sudah diterjemahkan, yaitu Samarkand. Kayaknya harus coba dibaca juga deh. Mari kita hunting buku!

5/5

Traveling Man: The Journey of Ibn Battuta (1325-1354) by James Rumford

Travelling Man: The Journey of Ibn Battuta (1325 – 1354)

by James Rumford

soft cover, 40 p.

First publication: September 24, 2001

HMH Books for Young Reader

Primary language: english

A review from Juli 25, 2011

“Traveling–it leaves you speechless, then turns you into a storyteller.” (Ibn Battuta)

Buku yang membuat impian saya untuk bertualang terus hidup.

-nat-

5/5