Red Rising (Red Rising Trilogy, #1) by Pierce Brown

15839976

Hardback, 382 pages
Published January 28th 2014 by Del Rey (Random House)
ISBN 0345539788 (ISBN13: 9780345539786)
Primary language: English
Gini: Bayangkan ketika umat manusia berhasil melakukan terraform (alias mengubah karakteristik suatu daerah hingga mirip Bumi dan layak-huni) pada planet-planet dan bulan di tata surya. Manusia pun akhirnya bisa pindah ke Mars, Venus, atau Merkurius. Nah, Pierce Brown berhasil membangun “dunia” itu.
Saya sih suka buku ini. Pierce Brown menciptakan istilah-istilah baru yang sepenuhnya bisa dimengerti dan dibayangkan. Kalimat-kalimatnya pendek dan ringkas. Tapi, ada bagian-bagian yang mengingatkan saya pada serial The Hunger Games. Ya, karakter-karakternya, ya dunia-dunianya. Dan saya rasa lebih tepat jika menggolongkan buku ini sebagai dystopian fantasy, alih-alih sci-fi. Kata saya, lhooooo…
Sekian.
-nat-
4/5
PS: entah berapa kali saya sudah bilang gini, tapi… Pierce Brown-nya guantengggg… XD

Obsidian (The Lux Series, #1) by Jennifer L. Armentrout

12578077
OBSIDIAN (THE LUX SERIES, #1)
Paperback, 2nd Edition, 335 pages
Published May 8th 2012 by Entangled Teen (first published November 23rd 2011)
ISBN 9781620610077
Primary language: English

Okay… forget about those sparkling vampires. Say hello to these awesome aliens!

WOO-HOO

-nat-

5/5

The Book Thief by Marcus Zusak

bookthief

The Book Thief

by Marcus Zusak

Paperback, 552 pages
Published September 18th 2007 by Alfred A. Knopf
ISBN13: 9780375842207
(first published September 1st 2005)
Buku yang bercerita tentang buku selalu berhasil menarik perhatian saya. Bahkan kalau temanya berkisar ke seputar masalah yang biasanya enggan saya sentuh. Contohnya saja: tentang Holocaust, tentang Nazi, tentang perempuan yang teraniaya, tentang fasis-komunis-totalitarian, dsb dsb. Pokoknya tema-tema yang berat dan secara pribadi membuat saya “makan-ati”.Intinya, tema buku ini lebih menggiurkan sehingga bisa mengatasi keengganan saya terhadap kisah-kisah “mengerikan”.

Cerita bermula ketika sang Narator menemukan sebuah buku bersampul hitam tergeletak di antara puing-puing bangunan. Buku milik seorang gadis Jerman, yang kisahnya tertulis di sana. Ketika memutar waktu (atau ingatannya?) kembali, sang Narator ternyata pernah bertemu dengan gadis itu tiga kali (secara tidak sengaja, sementara pertemuan yang keempat memang disengaja).

Sang Narator mengetahui bahwa: (1) gadis itu pencuri buku; (2) ada kualitas pribadi gadis itu yang entah mengapa menarik perhatiannya; dan (3) gadis itu orang yang ia sebut sebagai “the leftover”, orang yang tersisa/yang bertahan hidup.

Sang Narator ini berprofesi sebagai pengumpul serpihan-serpihan jiwa manusia. Bayangkan betapa sibuknya dia, karena saat itu sedang pecah Perang Dunia II sementara Hitler sedang menjalankan ideologi fasisnya. Ya, sang narator adalah sang Malaikat Maut atau kita sebut saja sebagai Death.

Death bercerita dengan gaya yang kocak dan sompral dan cenderung sarkastik. Dia juga seringkali ember karena suka membocorkan akhir cerita (katanya, akhirnya aja udah cukup menyedihkan sehingga dia gak mau pembacanya terkejut). Ia terus-terusan mencoba menyadarkan pembaca bahwa kematian itu tidak seperti yang dipikirkan manusia selama ini.

Ini adalah kisah tentang Liesel, gadis berumur 10 tahun yang selalu dihantui kenangan akan kematian adiknya ketika diangkat anak oleh keluarga Hubermann. Tentang Papa Hubermann yang bijak dan gemar bermain akordeon; tentang Mama Hubermann yang bermulut kasar tapi berhati seluas samudra. Persahabatan Liesel dengan Rudi Steiner. Pertemuan Liesel Meminger dengan Max Vandenburg, seorang Yahudi yang bersembunyi dari kejaran Nazi. Ini kisah tentang seorang pencuri buku (dan banyak lagi yang dicurinya selain buku, tapi malah gak relevan sama judulnya kalau dituliskan).

Ughhh… I am not such a good story-teller, am i??!!

Anyway, I highly recommend this book to you. The Book Thief is a you-could-not-put-down-til-you-had-finished-reading kind of book. It deserves 6 stars.

-nat-

5/5

A Monster Calls by Patrick Ness

A Monster Calls

by Patrick Ness

Kindle Edition

215 p.

First Publication: September 27, 2011

Primary language: English

A review from September 8, 2013

“The monster showed up just after midnight. As they do.”

Ada buku yang dari kalimat pertamanya saja sudah membuat saya terpikat. Kalimat pertamanya sudah membuat pikiran saya meliar. Kalimat pertamanya berhasil membuat imajinasi saya diregangkan, dipelintir, dikempiskan, dikembungkan sampai tak berbentuk. Kalimat pertamanya bisa menyeret saya ke tempat-tempat tak terduga–ke ruang bawah tanah seorang pencuri buku cilik, ke kuburan buku-buku yang telah terlupakan, ke tempat-tempat asing dalam upaya memecahkan misteri tentang sebuah kunci, ke sebuah sirkus yang kemunculan dan kepergiannya selalu tak terduga seperti layaknya tempat yang menjadi pusat keajaiban lainnya. Itu baru sebagian.

Dan buku ini, “A Monster Calls – from original idea by Siobhan Dowd” karya Patrick Ness adalah salah satunya.

Saya tidak mau cerita soal isinya, tapi bukan, ini bukan buku horor seperti yang tersiratkan oleh judul dan kovernya. Setidaknya bukan monster-monster dengan sosok fisik mengerikan serta jahat. Ini buku yang menjanjikan air mata. Buku yang menjanjikan akhir cerita yang akan “membuat dunia kita kacau balau”.

“Stories are wild creatures, the monster said. When you let them loose, who knows what havoc they might wreak?”

This is another good book which tore my heart and made me cry. But in the end, it also relieved me. Thank you Patrick Ness for passing the baton to all of your readers. To tell you the truth, it’s creating quite a havoc, instead of making a trouble.

-nat-

5/5

Buku sejenis: Love, Aubrey (Suzanne LaFleur), Ways to Live Forever (Sally Nichols)